Tuesday, June 30, 2009

Dia dan Diriku

Dia telah lena
bila aku masih ingin mendengar bicaranya
Dia sudah jaga
Bila aku masih ingin merasa hangat dakapnya

Seribu ayat yang ku tuturkan
berbalas hanya sepatah kata
Semanis senyum aku ukirkan
berbalas kerut keningnya

Dalam aku mengatur rancangan
dia sudah punya keputusan
dalam aku merangka satu persoalan
dia telah tersedia dengan sejuta jawapan
(atau alasan?)

Dia disini, aku disana
Jalan yang sama, haluannya berbeza
Detik yang begitu pantas berlalu
terasa begitu lama untuk ku tunggu

Apakah telah terjadi antara dia dan diriku?

Disebalik perbezaan
terselit persamaan
Begini aku dan begitulah dia
walau diriku takkan pernah sama dengan dirinya
tapi bukankah cinta
tidak seharusnya sering sama
dan bukan segala seginya serupa

Indahnya cinta dia buat diriku
ku yakin pasti sama indahnya dengan cintaku terhadap dirinya
Dalam dan hangatnya kasihku padanya
ku yakin benar sama dalam dan hangat seperti cintanya terhadap aku

Dia dan diriku tercipta untuk bersama
lalu pasti ada jalannya
dan pasti ada cintanya





Dimana bahagia?

Mengapa masih merasa sepi
sedang dunia penuh gempita?
Mengapa harus merasa sunyi
sedang derai ketawa bingit sekali?
Apa yang masih ingin dicari
Apa lagi yang masih tidak dimiliki

Kitakah yang masih tidak mengerti erti bahagia
lalu mencipta cinta
yang entah pada siapa
dan tidak mengira titik noktahnya
tanpa mengenal batas susilanya

Sebenarnya
kita sudah ada bahagia
Dalam hati kita
Berhentilah mencari
Kerna ia telah kita miliki





Jaga

Pada fajar subuh hari
yang bakal menenggelamkan kelam malam
tinggalkanlah kedinginan
simbahkan cahaya terang
cairkan semangat insan yang keras beku
yang masih hidup dalam tidur
biar jaga mereka dalam berjaga-jaga
biar melangkah dalam tidak alpa
bukan berlari tapi masih tidak berinjak walau selangkah
dan masih lena dalam angan